Diskusi Pendidikan dalam Bingo 1.0

 



          Bingo yang merupakan singkatan dari Bincang Ngopi merupakan program kerja agenda dari divisi penalaran HIMABO UM. Kegiatan ini merupakan program kerja pertama divisi penalaran periode 2020/2021 dengan mengusung tema "Digitalisasi Pendidikan Berkah atau justru Musibah?". Bingo diadakan dengan tujuan Melatih anggota Himabo untuk berfikir kritis dan berargumentasi mengenai isu terkini Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2021 di Hokky Cafe, tepatnya di jl. KH. R. Moh. Rosyid, Dalem lor, Ngumpak Dalem, Kabupaten Bojonegoro. Bingo 1.0 diikuti oleh sekitar 28 orang yang merupakan perwakilan setiap divisi serta pengurus harian Himabo. Demi mewujudkan tujuan diadakannya kegiatan ini, maka panitia mendatangkan pemantik yang luar biasa. Pemantik merupakan wakil ketua umum HIMABO periode 2017/2018. Beliau sering disapa dengan nama kak Fatika Nurrochmana.

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan oleh moderator dan dilanjutkan oleh penyampaian materi secara garis besar oleh pemantik. Pemantik menyampaikan materi seputar mengenai pendidikan. Di mulai pada pembahasan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di mana pemantik menjelaskan mengenai visi dan misi pendidikan nasional. Visi dan misi tersebut, yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Acara dilanjut dengan membagi peserta menjadi dua kubu, yaitu kubu pro atau setuju dan kubu kontra atau menolak. Hal ini dilakukan agar diskusi dapat berjalan dengan efisien dan mendapat berbagai pendapat dari sudut pandang yang berbeda.

Kubu atau tim pro menyatakan bahwa digitalisasi pendidikan akan membawa dampak positif apabila hal tersebut diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Mereka berpendapat bahwa dengan adanya revolusi industri 4.0, maka siap atau tidak, ingin atau tidak ingin, digitalisasi tersebut akan tetap masuk dalam Indonesia. Digitalisasi tersebut akan memudahkan manusia dari setiap lini kehidupan tanpa terkecuali. Oleh karena itu, digitalisasi pendidikan memang harus diterapkan di Indonesia karena dengan begitu akan menjawab tantangan seputar teknologi dan informasi secara global.


            Tim kontra menyatakan tidak sependapat dengan apa yang disampaikan oleh tim pro. Mereka berpendapat bahwa digitalisasi pendidikan belum bisa diterapkan di Indonesia. Pendidikan Indonesia belum sepenuhnya merata terlebih di daerah Indonesia bagian Timur. Bukan hanya permasalahan itu, orang tua peserta didik juga masih sangat banyak yang gaptek (gagap teknologi). Dengan begitu, untuk pembelajaran yang harus menggunakan teknologi seperti gawai, laptop, smartphone, dan sebagiannya dirasa belum siap. Jika hal ini dipaksakan secara menyeluruh, maka dikhawatirkan masyarakat yang hidup di pelosok justru semakin tertinggal.




            Perdebatan antara tim pro dan kontra berlangsung hingga pukul 12.15 WIB. Dengan begitu, kegiatan ini ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh pemantik dan moderator. Berdasarkan perdebatan panjang baik dari tim pro maupun kontra didapati kesimpulan, sebagai berikut:

    1.   Di antara semua sistem pendidikan baik guru, regulator, dan peserta didik harus bekerja sama untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

    2.   Orang tua dan guru harus sadar serta mau belajar mengenai teknologi. Hal itu dikarenakan mau tidak mau digitalisasi pendidikan akan tetap masuk di Indonesia dengan waktu yang tidak terduga dan begitu cepat. Oleh karena itu, sebagai calon guru dan orang tua hendaknya mempersiapkan hak tersebut jauh-jauh hari. 

    3.   Revolusi industri 4.0 akan membawa kita ke dalam sebuah dunia tanpa batas. Tidak dapat dipungkiri bahwa di masa yang akan datang teknologi akan menggantikan berbagai profesi yang ada. Oleh karena itu, berusaha menyesuaikan dan terus belajar sekiranya mampu dijadikan langkah awal untuk menyiapkan menghadapi revolusi industri 4.0 dan bonus demografi.






Komentar