“Hilangnya Kemampuan Mahasiswa dalamBerpikir Kritis akibat Pengaruh AI”
Bojonegoro — Himpunan Mahasiswa Bojonegoro Universitas Negeri Malang (HIMABO UM) kembali menggelar kegiatandiskusi bertajuk Bincang Ngopi 2026 pada Minggu (18/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di Cafe YokoKawa, KabupatenBojonegoro ini mengangkat tema “Hilangnya KemampuanMahasiswa dalam Berpikir Kritis akibat Pengaruh AI”, sebuahisu yang dinilai relevan dengan realitas akademik saat ini.
Bincang Ngopi atau yang akrab disebut BINGO merupakanagenda Divisi Penalaran HIMABO UM yang dirancang sebagairuang diskusi terbuka bagi mahasiswa untuk melatih kepekaanberpikir kritis serta keberanian menyampaikan pendapatterhadap isu-isu kontemporer. Melalui konsep diskusi santainamun substansial, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakansuasana dialog yang reflektif dan partisipatif.
Diskusi pada Bincang Ngopi 2026 dipantik oleh pemateri Asif Fira Rahma, yang memaparkan pandangannya mengenaipergeseran pola berpikir mahasiswa di tengah pesatnyaperkembangan kecerdasan buatan. Dalam penyampaiannya, Asif menekankan bahwa kemudahan akses AI tidak boleh membuatmahasiswa kehilangan kemampuan untuk menganalisis, mempertanyakan, dan membangun argumen secara mandiri.
Sebanyak 29 peserta yang terdiri dari anggota HIMABO UM serta Dewan Pertimbangan Organisasi turut hadir dan terlibataktif dalam diskusi. Jalannya kegiatan berlangsung dinamisdengan berbagai pandangan kritis yang disampaikan pesertaterkait pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik. Diskusi menyoroti fenomena ketergantunganmahasiswa terhadap AI yang dinilai berpotensi mengikiskemampuan analisis, nalar, dan proses berpikir mandiri.
Ketua Pelaksana Bincang Ngopi 2026, Faturrahman Veri, menyampaikan bahwa tema tersebut dipilih sebagai bentukrefleksi bersama atas perubahan pola belajar mahasiswa di era digital. Menurutnya, AI sejatinya dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat, namun penggunaannya perlu disertai kesadarankritis agar tidak menggantikan peran berpikir manusia itu sendiri.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penggunateknologi, tetapi juga mampu bersikap kritis terhadap dampakyang ditimbulkannya. Berpikir kritis adalah identitas mahasiswayang tidak boleh hilang,” ujarnya.
Kegiatan ini turut didukung oleh antusiasme peserta, kesiapanpanitia, serta lokasi pelaksanaan yang nyaman dan mudahdijangkau. Meski sempat mengalami keterlambatan waktupelaksanaan dari jadwal yang direncanakan, hal tersebut tidakmengurangi esensi dan kualitas diskusi yang berlangsung hinggaakhir acara.
Melalui Bincang Ngopi 2026, HIMABO UM berharapmahasiswa mampu memposisikan AI sebagai sarana pendukungpembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjagakeseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan dayanalar kritis di kalangan mahasiswa.
Dengan terlaksananya Bincang Ngopi 2026, HIMABO UM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi yang edukatif, reflektif, dan relevan denganperkembangan zaman, khususnya dalam membentuk karaktermahasiswa yang kritis, sadar teknologi, dan bertanggung jawabsecara intelektual.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah membaca .. :)